Emisi Karbon Karhutla Meluas, Titik Api Intensif Terdeteksi di Papua Selatan
![]() |
| Peta visualisasi Fire Emissions Watch |
Jakarta - Peta visualisasi Fire Emissions Watch dari Copernicus/ECMWF menunjukkan sebaran emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 6–12 Oktober 2026. Visualisasi tersebut memperlihatkan konsentrasi emisi yang ditandai dengan warna ungu pekat hingga merah muda.
Sebaran emisi terlihat meliputi wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan sekitarnya. Di Papua bagian selatan, titik api atau kebakaran yang ditandai dengan warna kuning-oranye tampak terkonsentrasi di sejumlah lokasi.
Sementara itu, peningkatan titik panas di sejumlah wilayah prioritas penanganan karhutla, seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Jambi, turut menjadi perhatian.
Kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas udara akibat peningkatan partikel halus PM2,5. Konsentrasi polutan tersebut berpotensi membuat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya, bergantung pada tingkat pencemaran di masing-masing wilayah.
Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, dan Manggala Agni terus melakukan penanganan karhutla. Upaya yang dilakukan meliputi pemadaman melalui jalur darat, pembasahan lahan gambut, pembangunan sumur bor, hingga pemutusan kepala api untuk mencegah kebakaran meluas.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya penanganan karhutla.
Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menekan penyebaran kebakaran dan mengurangi dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan maupun kualitas udara.

Posting Komentar