Gunung Lokon Didominasi Gempa Vulkanik Dangkal, Status Tetap Waspada

Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulut. ANTARA/Karel A Polakitan

MANADO – Aktivitas Gunung Lokon di Sulawesi Utara didominasi gempa vulkanik dangkal selama periode pengamatan 16–30 September 2026. Meski demikian, hasil evaluasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan aktivitas vulkanik belum mengalami peningkatan berdasarkan pengamatan visual dan seismik.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa selama periode tersebut tercatat ratusan gempa vulkanik dangkal serta sejumlah aktivitas kegempaan lainnya. Data itu disampaikan melalui laporan yang dibagikan Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lokon, Armando Manguleh, dalam grup percakapan BMKG dan pemangku kepentingan di Manado, Sabtu.

"Berdasarkan pengamatan instrumental, terekam sebanyak 110 kali gempa embusan, dua kali gempa tornillo, 277 kali gempa vulkanik dangkal, tujuh kali gempa vulkanik dalam, lima kali gempa tektonik lokal, dan 43 kali gempa tektonik jauh," sebut Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam laporan yang dibagikan Ketua Pos PGA Lokon Armando Manguleh di grup percakapan BMKG dan Stakeholders di Manado, Sabtu.

Berdasarkan pengamatan visual, Gunung Lokon terpantau mengeluarkan embusan asap berwarna putih tipis dengan ketinggian maksimum sekitar 150 meter di atas kawah.

Hasil pemantauan juga menunjukkan bahwa gempa vulkanik dangkal atau VB menjadi jenis kegempaan yang paling dominan. Sementara itu, gempa vulkanik dalam atau VA relatif jarang terekam selama periode pengamatan.

Data Real Time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) memperlihatkan energi seismik mengalami kenaikan sejak 24 Agustus hingga 30 September 2026. Peningkatan tersebut diketahui bersumber dari gempa-gempa permukaan.

Sementara itu, pengukuran deformasi menggunakan perangkat Global Positioning System (GPS) menunjukkan pola inflasi dengan laju rendah pada periode Juni 2025 hingga Januari 2026. Adapun selama 1 Januari sampai 30 September 2026, deformasi Gunung Lokon cenderung mendatar atau tidak menunjukkan perubahan berarti.

Meski belum terindikasi mengalami peningkatan aktivitas, Gunung Lokon masih memiliki sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai masyarakat. Ancaman tersebut meliputi kemungkinan keluarnya gas beracun dari kawah sewaktu-waktu serta potensi terjadinya erupsi freatik secara tiba-tiba.

Selain ancaman dari kawah, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di puncak Gunung Lokon diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar. Risiko tersebut dapat meningkat ketika musim hujan atau saat terjadi hujan deras dalam durasi panjang.

Berdasarkan analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 30 September 2026, tingkat aktivitas Gunung Lokon masih berada pada Level II atau Waspada. Rekomendasi keselamatan ditetapkan dengan mempertimbangkan potensi ancaman yang ada.

Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang melakukan aktivitas atau mendekati kawasan dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.

Apabila terjadi letusan yang disertai hujan abu, masyarakat diimbau tetap berada di dalam rumah. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, warga disarankan menggunakan pelindung hidung dan mulut berupa masker serta pelindung mata seperti kacamata.

Pemantauan aktivitas Gunung Lokon dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung api tersebut.



Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال