Investasi Data Center Buka Peluang Baru bagi PDAM
![]() |
| Ilustrasi |
Voktis, Jakarta - Lonjakan investasi pusat data (data center) di Indonesia membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan daerah air minum (PDAM). Kebutuhan air untuk sistem pendingin pusat data dinilai dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus mendorong pengembangan infrastruktur air bersih.
Anggota Dewan Energi Nasional, Satya Yudha, mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk menarik investasi pusat data dengan memanfaatkan potensi sumber daya air dan energi terbarukan.
Menurutnya, perpaduan infrastruktur digital, energi terbarukan, dan sumber daya air dapat menjadi keunggulan Indonesia dalam mengembangkan industri pusat data.
“Indonesia memiliki ruang untuk mengembangkan kombinasi antara infrastruktur digital, energi terbarukan, dan sumber daya air,” kata Satya.
Namun, potensi sumber air yang besar perlu didukung infrastruktur pengolahan dan distribusi yang memadai. Tanpa fasilitas tersebut, ketersediaan air baku belum tentu dapat memenuhi kebutuhan industri maupun masyarakat.
Direktur Utama Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu, Riana Afriadi, mengatakan kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting dalam memanfaatkan potensi sumber air.
“Sebesar apa pun potensi sumber air yang kita miliki, tanpa didukung infrastruktur yang memadai, kemampuan untuk mengolah dan mendistribusikan air tetap akan terbatas,” ujar Riana.
Riana menilai kehadiran pusat data tidak harus menjadi ancaman bagi pasokan air masyarakat. Industri tersebut justru dapat menjadi peluang untuk memperkuat sistem penyediaan air minum (SPAM) di daerah.
“Kehadiran data center tidak semata-mata kami lihat sebagai tambahan kebutuhan air. Kita melihatnya sebagai sebuah kesempatan,” tuturnya.
Menurut Riana, pendapatan dari pelanggan industri berskala besar berpotensi digunakan kembali untuk meningkatkan kapasitas produksi air, memodernisasi infrastruktur, memperbaiki jaringan perpipaan, hingga memperluas layanan ke kawasan permukiman.
Meski demikian, pemanfaatan air untuk pusat data perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Ketersediaan air baku, kapasitas pengolahan, dan kemampuan jaringan distribusi menjadi faktor yang menentukan.
Di Purwakarta, misalnya, masih terdapat kuota air baku untuk sistem penyediaan air bersih yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kapasitas tersebut berpotensi mendukung kebutuhan industri selama tidak mengganggu pasokan prioritas bagi masyarakat.
Teknologi Pendingin Pengaruhi Kebutuhan Air
Kebutuhan air pusat data juga bergantung pada teknologi pendingin yang digunakan. Sistem cooling tower dan evaporative cooling, misalnya, memanfaatkan penguapan untuk membuang panas sehingga membutuhkan air dalam operasionalnya.
Di sisi lain, tersedia teknologi yang dapat menekan konsumsi air, seperti air-cooled chiller, economizer, sistem closed-loop, dan dry cooling.
Karena itu, perencanaan pembangunan pusat data perlu mempertimbangkan teknologi pendingin, sumber air baku, kapasitas pengolahan, pemanfaatan air daur ulang, serta kondisi iklim di lokasi pembangunan.
Pengelolaan yang tepat diperlukan agar pertumbuhan industri pusat data dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Posting Komentar