JAKARTA — Sektor manufaktur mainan buatan anak bangsa terus menunjukkan taji di kancah internasional. Kinerja pengapalan produk mainan ke luar negeri mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang paruh pertama tahun ini. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan nilai ekspor mainan nasional berhasil menyentuh angka 351,8 juta dolar AS pada rentang Januari hingga Juni 2026. Capaian tersebut melonjak tajam dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year) yang berada di angka 297,7 juta dolar AS.
Kenaikan grafik perdagangan luar negeri ini menjadi bukti bahwa kualitas serta daya tahan industri mainan dalam negeri semakin diperhitungkan di pasar global. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam mengawal momentum positif ini. Langkah strategis terus dipacu melalui standardisasi mutu, efisiensi kapasitas pabrik, hingga pembukaan jalur pemasaran baru.
“Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global,” ujar Reni dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Di samping menjadi mesin pencetak devisa, sektor manufaktur mainan memegang peranan krusial sebagai industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja lokal. Mengacu pada integrasi data BPS 2024 dan SIINas 2025, saat ini tercatat ada 256 unit usaha industri mainan yang beroperasi aktif dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 15.663 orang. Konsentrasi produksi ini ditopang oleh 10 sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) mainan yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur.
Reni mengungkapkan, penguatan fondasi di dalam negeri menjadi kunci utama agar produsen lokal mampu merajai negeri sendiri sekaligus bertaji saat berekspansi ke mancanegara.
“Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional,” tuturnya.
Trek rekor perdagangan luar negeri sektor ini memang menunjukkan performa yang solid. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Indonesia konsisten mengantongi surplus net ekspor. Pada 2025 lalu, total pengapalan mainan Indonesia tumbuh 8,2 persen secara tahunan dengan nilai total mencapai 664,6 juta dolar AS. Negara pengimpor utama produk mainan lokal sejauh ini meliputi Amerika Serikat, Inggris, China, Australia, hingga Republik Ceko.
“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, China, Australia, dan Republik Ceko, dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global,” imbuh Reni.
Guna memperkokoh kemandirian industri, Kemenperin menargetkan perluasan cakupan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 65 pabrikan mainan telah sukses mengantongi sertifikasi TKDN.
“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” jelasnya.
Sebagai langkah nyata pendampingan dari hulu ke hilir, Kemenperin secara konsisten memfasilitasi para pelaku IKM melalui sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), pendampingan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015, modernisasi teknologi Industri 4.0, hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas.
