Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mahasiswa UB Bikin Mesin Pencacah Sampah Organik, Warga Malang Diajak Olah Limbah

Mahasiswa FTAB Universitas Brawijaya mengenalkan mesin pencacah sampah organik berbasis flywheel di RW 04 Kelurahan Samaan, Malang.

 Mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem

Voktis, Malang - Mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) mengenalkan mesin pencacah sampah organik berbasis flywheel kepada warga RW 04 Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Teknologi ini diharapkan membantu warga mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos.

Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi tersebut digelar pada Rabu (1/7/2026) melalui Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) FTAB. Mesin pencacah yang terintegrasi dengan drum komposter itu kini ditempatkan di RW 04 untuk digunakan masyarakat.

Program tersebut dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rini Yulianingsih, STP., MT., Ph.D. dan Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani, STP., M.Si. Kegiatan ini juga melibatkan pengurus RW 04 yang dipimpin Bambang Eka Adi serta warga setempat.

Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan sampah organik di Kelurahan Samaan. Wilayah permukiman padat penduduk itu menghasilkan sampah organik rumah tangga hingga sekitar 3.575 kg per hari.

Selama ini, sampah berupa sisa makanan, sayuran, dan daun kering belum dipilah dari rumah. Limbah tersebut langsung dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS), sehingga berpotensi menimbulkan penumpukan, bau tidak sedap, dan berkembangnya hama.

Pengolahan sampah menjadi kompos secara manual juga dinilai membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup besar. Sementara itu, ketersediaan alat pendukung pengolahan sampah di tingkat masyarakat masih menjadi kendala.

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa menjelaskan pentingnya pemilahan sampah dari rumah, penerapan standar operasional prosedur (SOP), serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Warga juga diperkenalkan dengan mekanisme kerja mesin pencacah berbasis flywheel.

Flywheel atau roda gila berfungsi menyimpan energi kinetik rotasi untuk menjaga kestabilan putaran poros pisau. Dengan mekanisme tersebut, proses pencacahan diharapkan tetap efisien dan hemat tenaga meski beban sampah yang diolah bervariasi.

Mesin tersebut memiliki kapasitas kerja mencapai 15,70 kg per jam dan mampu menghasilkan cacahan sampah berukuran sekitar 10 mm. Ukuran cacahan itu dinilai sesuai untuk mempercepat proses dekomposisi sampah dalam drum komposter aerob.

Sosialisasi dilanjutkan dengan praktik pengomposan dan diskusi bersama warga. Berdasarkan survei kepuasan, masyarakat memberikan respons positif terhadap kemudahan penggunaan, keamanan, serta efektivitas mesin dalam mengurangi volume sampah.

Pengurus RW 04 dan warga juga berkoordinasi untuk menyusun jadwal pengumpulan sampah organik secara bergiliran. Langkah ini dilakukan agar pasokan bahan baku untuk proses pengomposan tetap tersedia.

Kompos yang dihasilkan nantinya direncanakan untuk mendukung fasilitas greenhouse RW 04. Selain itu, pupuk organik tersebut berpotensi memiliki nilai ekonomi melalui penjualan secara mandiri.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan dan kemandirian warga dalam mengelola limbah rumah tangga. Pengolahan sampah organik juga dinilai mendukung upaya pengurangan emisi gas metana dari pembusukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian SDGs 11, SDGs 12, dan SDGs 13

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  •  Mahasiswa UB Bikin Mesin Pencacah Sampah Organik, Warga Malang Diajak Olah Limbah
  •  Mahasiswa UB Bikin Mesin Pencacah Sampah Organik, Warga Malang Diajak Olah Limbah
  •  Mahasiswa UB Bikin Mesin Pencacah Sampah Organik, Warga Malang Diajak Olah Limbah
  •  Mahasiswa UB Bikin Mesin Pencacah Sampah Organik, Warga Malang Diajak Olah Limbah
  •  Mahasiswa UB Bikin Mesin Pencacah Sampah Organik, Warga Malang Diajak Olah Limbah
  •  Mahasiswa UB Bikin Mesin Pencacah Sampah Organik, Warga Malang Diajak Olah Limbah

Posting Komentar